Posted by : Agung Saputra June 02, 2015


Oke malam begini saatnya update salah satu cerita fiksi yang saya tulis ketik. Biasanya sih pake nama pena Mashiro atau Masayoshi Jiro kalau nge publish cerita fiksi di forum - forum :V tapi kali ini berbeda saya akan gunakan nama asli sebagai nama pena. 

Here we go ! 

Judul : Me versus You ! 

Genre : Romance , Comedy 

Status : On going 


Sinopsis :
Sesaat setelah berjalan - jalan di taman kota, Aya dikejutkan dengan hilangnya anjing kesayangannya. Pertemuan yang tidak disangka - sangka pun terjadi. Aya menuduh seseorang menculik anjingnya. Adanya kesalah pahaman membuat masalah ini semakin rumit. Beberapa hari berlalu, Aya kembali bertemu dengan orang itu di sekolahnya, yang tidak lain adalah gurunya sendiri. Kesalahpahaman yang kemarin terjadi membuat mereka berdua berada dalam 1 situasi yang tidak terbayangkan oleh mereka sebelumnya!



Namaku Aya Louise, 16 tahun. Aku baru saja pindah ke Rain City 1 minggu yang lalu. Karena urusan pekerjaan ayahku aku terpaksa mengikutinya pindah ke kota ini. Dan terlebih lagi Ayahku adalah single parent. Semenjak ibuku meninggal 3 tahun lalu, Dia selalu bekerja keras untuk mengurusku. Apalagi aku adalah anak tunggal yang artinya tidak ada lagi keluarga yang dimiliki oleh Ayahku selain diriku.

Bukannya Aku benci dengan kota ini, Hanya saja kota ini  membuatku tidak nyaman. Hujan lebih sering turun di kota ini dibanding kota lamaku dulu. Dalam 1 minggu ini hujan turun 4 kali. Biarpun hanya sebentar tapi tetap saja membuatku tidak nyaman. Orang - orang di kota ini terbiasa berjalan - jalan dengan membawa payung ataupun jas hujan, termasuk juga diriku.

Sebenernya tidak semua hal di kota ini membuatku tidak nyaman, karena ada beberapa hal di kota ini yang menurutku lebih baik daripada kota lamaku. Salah satunya adalah taman kota Rain Park. Taman ini terkenal karena memilki banyak bunga dan tanaman yang hijau dan indah. Dan berhubung hari ini cerah aku ingin berjalan - jalan dengan anjingku.

Aku menyelusuri jalan setapak di taman ini. Beberapa orang melakukan hal yang sama denganku. Mungkin karena sudah 3 hari ini hujan terus - menerus turun dan hari ini cerah banyak orang yang menghabiskan waktunya di taman ini. Apalagi ini akhir pekan. Banyak juga pasangan muda - mudi yang berjalan bersama bergandengan tangan di taman ini.

"Cih, membuatku iri saja. Andai saja aku punya pacar." Aku menghela nafas sembari memegang tali pengikat anjingku. Anjingku ini bernawa Digo. Aku sudah merawatnya semenjak 3 tahun lalu. Karena kami baru pindah ke sini 1 minggu yang lalu jadi aku hanya mengetahui rute taman ini saja. Digo terlihat sangat senang aku ajak jalan - jalan hari ini. Dia mengibaskan ekornya dan sesekali dia melompat kegirangan.

"Aaahh, Aku lelah." Aku berhenti di salah satu gazebo taman dan duduk di bangku panjang yang ada di taman itu. Aku meyandarkan bahuku. Aku berpikir apa anjing tidak memiliki rasa lelah? Digo masih terlihat bersemangat sedangkan aku sudah kelelahan. Suasana di sekitar gazebo itu begitu tenang. Mungkin karena sedikit orang yang menggunakan gazebo ini untuk beristirahat. Mereka lebih memilih beristirahat di hamparan rumput yang ada di bawah pohon.
Aku mengikat tali pengikat Digo pada kaki bangku gazebo. "Aku ingin sejenak memejamkan mataku." itu yang terpikirkan olehku. Perlahan ku pejamkan mataku. Rasanya begitu nyaman. Angin semilir menerpa tubuhku, suasana yang tenang dan kehangatan matahari seolah menyelimuti tubuhku.
...
"Eh, sepertinya Aku ketiduran." Aku mengucek - ngucek mataku. Matahari sudah semakin tinggi, sepertinya sekarang sudah hampir tengah hari. Aku segera bergegas meninggalkan taman.
"Digo, ayo pulang. Eh? Dimana dia?" Aku kaget ketika melihat tali pengikat Digo tidak ada di bangku gazebo yang kududuki.
"Digo! Digo!" Aku memanggil - manggil Digo seolah Dia mengerti bahasaku.
"Digo! Dimana kau? Jika kau mendengarku segeralah menggonggong!" Aku berputar putar sekitar gazebo mencari Digo.
Aku berjalan menyelusuri jalanan yang tadi kulewati.
           
"Mungkin saja Digo lelah menungguku tertidur di bangku tadi dan pulang duluan." Itu yang kupikirkan.
Di tengah perjalananku menyelusuri jalan setapak yang kulewati tadi aku mendengar suara gongongan anjing yang kudengar.
"Ah, Digo! Hei penculik apa yang kau lakukan pada Digo ku!" Aku reflek mengucapkan kalimat itu begitu saja setelah kulihat Digo digendong oleh orang lain.
Beberapa orang sekitarku menoleh kearahku. Orang yang menggendong Digo sepertinya terkejut. Begitu pula dengan Digo.
"Apa?! Kenapa kamu berbicara seperti itu. Aku bukanlah penculik seperti yang kamu kira." Orang itu meyangkal tuduhanku.
"Aku melihat anjing kecil ini berjalan sendirian dan dia menghampiriku itu saja yang terjadi." Dia mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi padaku.
"Tidak mungkin, Digo tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Dia sudah kuajarkan tidak boleh mendekati orang yang tidak dikenalnya sembarangan." Aku tidak terima dengan alasannya.
"Hah? Apa kamu itu bodoh? Aku menjelaskan yang sebenarnya." Sepertinya dia mulai menganggapku seperti orang yang keras kepala.

Seorang petugas keamanan taman yang tengah berpatroli menghampiriku. Sepertinya pembicaraan kami cukup membuat keributan di sekitar taman tersebut. Petugas itu menghampiriku dan menanyakan apa yang terjadi.
"Orang itu mencoba menculik anjingku!" Itu yang kukatakan pada petugas itu.
Petugas itu menghampiri orang yang menggendong Digo. "Apa benar yang dikatakan perempuan itu?"
"Tidak. Sudah ku jelaskan padanya kalau aku melihat anjing ini berjalan sendirian dan tiba - tiba anjing ini menghampiriku itu saja yang terjadi." Orang itu masih saja menyangkalnya.
"Tidak mungkin! Aku tadi mengikat Digo pada bagian bangku taman kok." Aku tidak mau mengalah.
"Nah itu dia!" Orang itu menunjuk kearahku. "Mungkin saja tali pengikatnya lepas dan kamu tidak menyadarinya." Orang itu berbalik menuduh kepadaku.
"Tidak, Aku yakin sudah mengikatnya dengan benar dan kuat." Aku semakin tidak mau mengalah.
"Sudah - sudah sekarang kalian berdua ikut dengan Saya ke pos penjaga" Petugas taman tersebut menyuruh kami mengikutinya.
"Kembalikan Digoku!" Aku merebut Digo dari gendongan orang tersebut.   

Tidak lama kami sudah sampai di pos penjaga taman. Letaknya persis berada di pintu utama taman ini. Kami diminta untuk duduk sebentar. Terlihat penjaga tadi menjelaskan situasi kami kepada temannya. Kemudian temannya meminta kami mengisi beberapa data isian.
"Baiklah aku akan menayakan beberapa pertanyaan. Tolong tunjukan tanda pengenal kalian untuk beberapa data isian ini." Petugas meminta tanda pengenal kami.
Aku menunjukan kartu pelajarku kepada petugas. Terlihat orang itu menunjukan KTP nya pada petugas tersebut.
"Sepertinya orang itu lebih tua dariku." Itu yang terpikirkan olehku.
"Baiklah di sini pemilik anjing Aya Louise." Aku mengangguk mengiyakannya.
"Dan orang yang menemukan anjingmu, Andy Roster." Petugas itu menyebutkan nama orang tadi.
"Maaf pak bukan menemukan, tapi menculik." Aku menanggapi perkataan petugas itu.
"Arrgh, sudah cukup pak! Aku tidak tahan lagi dengan perempuan ini. Biar masalah ini selesai Aku minta maaf. Aku harus segera pergi. Andy akhirnya minta maaf kepadaku.
"Nah, begitu dong. Kan kalau begini Aku juga bisa memaafkanmu." Aku tersenyum padanya.
Sepertinya Dia terheran - heran denganku. Terlihat dahinya mengkerut dan dia menggelengkan kepalanya.
"Baiklah pak sudah selesaikan? Aku ingin segera pergi dari sini." Andy meminta kartu pengenalnya pada petugas.
"Ya baiklah kalau begitu." Petugas itu memberikan katu pengenal milik Andy.
Sebelum beranjak dari tempat duduknya Andy menoleh padaku dan mengatakan sesuatu.
"Dasar perempuan yang keras kepala." ujarnya.
Tak lama setelah Andy pergi, Aku juga pergi meninggalkan pos penjagaan tersebut.
***

Hari ini adalah hari pertama semester baru dimulai. Seperti biasa aku sibuk menyiapkan segala sesuatunya pagi ini. Karena aku satu - satunya perempuan di rumah ini mengurus rumah adalah tanggung jawabku. Sepertinya barang - barang dari rumah kami yang lama sudah dipindahkan kemari. Ayahku yang menata kembali barang - barang itu di rumah kami yang baru.

"Aya, kamu tidak bersiap - siap untuk berangkat sekolah? Sekarang sudah hampir jam 7.30 ." Ayahku mengingatkanku untuk bersiap ke sekolah.
Sekolah baruku lokasinya cukup jauh dari rumah ku ini. Setidaknya aku harus melewati 4 halte dan itu memakan waktu sekitar 40 menit.
"Upacara penerimaan murid baru dimulai jam 8.30 kok yah, Aku masih ada waktu untuk bersiap -siap." ujarku.

Aku menyaiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Ayahku. Aku tidak tega melihatnya memakan makanan yang dibeli di luar. Setidaknya Aku ingin dia mendapat makanan yang sehat dan bergizi. Begini - begini aku jago masak loh, sudah cantik dan jago masak sepertinya masa SMA ku akan cerah.
"Apa kau sudah menghafal rute ke sekolahmu?" sepertinya Ayah khawatir aku belum terbiasa di kota ini.
"Sudah kok, aku harus naik bis dari halte di ujung jalan itu lalu turun di halte SMA Raincoat kan? Aku juga sudah melihat - lihat sekolahku kemarin." Aku tidak ingin Ayah terlalu khawatir dengan ku.

SMA Raincoat adalah salah satu SMA terbaik di kota ini. Ku dengar SMA itu begitu populer di kota ini. Banyak alumninya yang diterima di perguruan negeri terbaik. Dalam hal pendidikan Ayahku selalu memberikanku yang terbaik makanya Dia menyekolahkan ku di sana. Lagipula ada alasan lain kenapa aku ingin bersekolah di sana.

Sejak SD sampai SMP aku selalu ke sekolah dengan berjalan kaki. Karena jarak sekolah dari rumahku yang dulu sangat dekat. Jadi aku ingin sekali naik bis ke sekolah seperti anak - anak SMA yang kulihat dulu. Mungkin saja ada kejadian romantis pada saat perjalanan ke sekolahku seperti yang ku lihat di film - film.

Seperti contohnya, Saat naik bis ketika aku terhempas karena rem mendadak seorang pangeran tampan dengan sigap menangkap bahuku, aku berkenalan dengan nya dan kisah cinta romantis kami dimulai. Setidaknya itu yang kuharapkan.

"Sudah sana bersiap - siaplah untuk ke sekolah, biar ayah yang membereskan meja makannya."
"Baiklah Yah, kalau begitu aku akan bersiap - siap dahulu." Aku segera bergegas meninggalkan meja makan menuju kamarku.
***

"Hm hm beginilah seharusnya seorang wanita. Cantik, dan berbakat." Aku memuji diriku sendiri di depan cermin.
Menurutku Aku adalah orang yang paling percaya diri jika di depan cermin. Begitu juga pendapat teman - teman SMP ku dulu. Mereka bilang "Aya, kalau ada kontes adu percaya diri untuk perempuan di depan cermin kamu pasti menang! Karena kamu kelewat percaya diri."
Rumah ku yang baru sekarang ada 2 tingkat. Kamarku sendiri berada di tingkat 2. Jujur aku sangat suka dengan kamarku yang sekarang. Aku memiliki meja rias dan meja belajar baru. Dan lagi letak meja belajar ku menhadap ke arah bukit Endless Rain. Endless Rain sendiri adalah bukit yang terletak di ujung perbatasan kota. Sangat besar sampai - sampai jika cuca cerah dari sini terlihat pemandangan bukit yang terhampar luas itu. Jika pagi kabut seolah menutupi bukit dan hanya memperlihatkan ujung puncaknya saja.
Cukup 15 menit bagiku untuk bersiap berangkat ke sekolah. Jam sudah menunjukan pukul 7.45 Aku bergegas meninggalkan kamarku.
"Ayah, Aku berangkat!" Aku memanggil Ayah untuk berpamitan dengannya. Tapi tidak ada jawaban kurasa dia sudah berangkat lebih dulu.
Ada sesuatu yang tertulis di whiteboard dekat pintu rumah.
"Jangan lupa untuk mengunci pintu, mematikan gas dan listrik.

-Ayah-
"
Kami punya kebiasaan untuk meniliskan pesan di whiteboard jika tidak sempat bertemu satu sama lain.
Aku segera mematikan gas dan listrik lalu mengunci pintu. Digo sudah menunngu di depan pintu rumah. Dia menggonggong sekali dan mengibaskan ekornya. Dia sepertinya ingin aku berpamitan dengannya.
Rumah anjing Digo terletak di sudut kanan rumahku. Terletak di bawah pohon yang sejuk jadi Digo tidak merasa kepanasan jika siang hari.
"Baiklah Digo jadilah anak anjing yang baik! Jangan bukakan pintu pada orang yang tidak Kau kenal ya!" Aku memberikan wejangan sebelum berangkat pada Digo.
"Satu lagi kalau bermain jangan jauh - jauh dan pastikan Kau tidak mengejar anjing tetangga sebelah ya! Karena kalau begitu Kau tidak akan disukai oleh anjing itu."
Setelah memberikan beberapa nasihat untuk Digo Aku segera pergi ke halte di ujung jalan rumahku.
***

Keinginan ku yang ingin bertemu dengan pangeran di dalam bis sirna sudah. Bis yang kutumpangi penuh sesak. Mungkin karena ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Aku memasang wajah kecut. "Sial" Aku menggerutu dalam hati. Bis melaju berhenti di satu halte dan halte lainnya.
Akhirnya bis yang kutumpangi berhenti di halte tujuanku. Aku segera keluar dari bis.
"Aaah, oksigen!" ujarku dalam hati. Karena tadi dalam bis penuh sesak Aku juga jadi sulit bernafas. Aku melirik jam tanganku. Jam menunjukan pukul 8.25.
"Agh, gawat upacara dimulai 5 menit lagi." Aku segera berlari ke sekolah. Jarak halte SMA Raincoat ke sekolah SMA Raincoat tidak begitu jauh.
Aku segera menuju papan pengumuman yang terdapat di dekat pintu utama ruang masuk ke area kelas. Aku segera mencari nama ku untuk melihat dimana kelasku berada.
"Yes, ketemu! Kelas 1-5." Aku bersorak kegirangan. Aku segera membalikan badanku.
"Aduh...!" Aku menabrak seseorang dibelakangku.
Seorang perempuan terjatuh. Aku segera meminta maaf padanya.
"Maaf, Aku tidak menyadari ada orang di belakangku." Kataku sembari menjulurkan tanganku.
Dia menggenggam tanganku, lalu aku membantunya berdiri.
"Aku juga minta maaf, aku juga tidak berhati - hati tadi. Aku juga ingin melihat daftar nama di papan itu." Dia menunjuk papan pengumuman tersebut.
"Baiklah, siapa namamu Aku akan membantumu mencarinya."
"Sally Shion." perempuan itu menjawab.
"Baiklah Sally Kamu ada di..." Aku memperhatikan satu per satu nama daftar nama di depanku.
"Kita sekelas Sally! Kamu ada di kelas 1-5 sama dengan ku."
"Benarkah? Untunglah." Dia mengurut dadanya.
"Gawat sudah jam 8.30 ayo kita segera ke lapangan utama, upacara segera dimulai."
Aku menarik tangan Sally dan berlari menuju lapangan.
***

Di lapangan utama sudah berkumpul banyak sekali murid baru. Karena ini upacara penerimaan khusus murid baru maka yang ada di sini adalah murid baru. Ketika kami datang kepala sekolah sudah memberi sambutan. Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang dia katakan karena aku berada di bagian belakang barisan. Sally tepat berada di belakangku. Setelah kepala sekolah memberikan sambutan pada murid baru beberapa guru satu - persatu maju mengenalkan nama dan mata pelajaran yang diajarnya. Lagi - lagi aku tidak mendengarkan dengan jelas.

Sekitar 30 menit kemudian upacara selesai. Para murid baru dengan tertib meninggalkan lapangan menuju kelas mereka masing - masing. Begitu juga kami. Setelah tiba di kelas aku langsung memilih tempat duduk yang ada di baris ke tiga di depan meja guru. Itu adalah tempat favoritku.

Sally duduk di sebrang kiri dari kursiku. Setelah itu beberapa dari kami mulai berkenalan. Aku juga tidak ingin ketinggalan. Aku tidak ingn masa SMA ku ini mempunyai sedikit teman. Kami sedikit berbincang satu sama lain seperti nama dan dari mana asal SMP dulu. Sepertinya kebanyakan dari mereka berasal dari SMP dekat daerah sini. Sedangkan Sally sendiri berasal dari SMP Raincoat.

"Hei apa kalian tau, kabarnya SMA Raincoat terkenal karena banyak guru - guru muda yang berbakat loh!" Fiona yang duduk di depanku membuka percakapan.
"Heh? Aku juga dengar begitu. SMA ini terkenal karena banyak guru muda dan berbakat tapi kemampuan mereka dalam mengajar hebat sekali. " ujar jeni yang berdiri disampingku.
"Ya, Aku harap bisa bertemu satu atau dua guru yang menyenangkan." ujarku.

Bel pertanda pelajaran pertama berbunyi. Seorang guru datang memasuki ruangan. Seorang guru tinggi berkaca mata, berambut rapi disisir kebelakang dan berkemeja putih pendek. Dia berdiri di depan papan tulis dan menuliskan namanya di sana. Lalu dia berkata, "Namaku Andy Roster!"

"Aah, penculik Digo!" Aku reflek berdiri dan menunjuk dirinya.
Seisi kelas terkejut, dan menoleh padaku. Terlihat raut wajah pak guru Andy melonggo. Aku tidak menyangka orang yang kutemui di taman adalah guru di SMA Raincoat. Sepertinya pak guru Andy juga tidak menyangka akan bertemu dengan ku di sini.
"Hah?!" itulah reaksi seisi kelas ketika aku mengatakan hal tersebut.
Kesalah pahaman yang terjadi kemarin sepertinya akan menjadi suatu situasi yang tidak terduga saat ini. Pak guru Andy terlihat menepuk jidatnya sepertinya dalam hatinya dia berkata "Oh tuhan sepertinya lagi - lagi Aku bertemu dengannya."


***

Kunjungi juga wattpad milik saya di : http://www.wattpad.com/133639446-me-versus-you-first-touch Karena cerita di wattpad akan di post lebih dulu daripada di blog ini 

           

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Agung Networks - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -